BERITA & ARTIKEL - KEGIATAN & PROMOSI

ST. CAROLUS BERITA & ARTIKEL

Tips Pemberian ASI pada Ibu Bekerja

oleh : dr. Elisabeth Yohmi, SpA, IBCLC

Post on 23 August, 2018

SAAT Ini banyak sekali ibu yang masih menyusui, tetapi harus kembali bekerja, biasanya saat bayi berusia 2 atau 3 bulan. Ibu yang kembali bekerja masih dapat memberikan ASI, di antaranya dengan memerah dan menyimpan ASI. Namun sayangnya tidak semua tempat kerja memiliki suasana yang mendukung. Padahal. tanpa disadari sebenarnya tempat kerja akan mendapat manfaat bila tenaga kerja didukung menyusui: anak lebih sehat, tenaga kerja pun akan lebih jarang absen. Sering kali ibu akhirnya berhenti menyusui atau mulai memberikan tambahan sebelum 6 bulan, ketika mereka kembali bekerja setelah melahirkan.

Ibu bekerja yang ingin memberikan ASI kepada bayinya dan agar berhasil memberikan ASI pada bayinya sebaiknya menyusui sebanyak mungkin saat sebelum bekerja, mulai belajar memerah ASI (6 jam setelah melahirkan atau secepatnya), dan menyimpan ASI jika suplai ASI sudah cukup banyak dan bayi tumbuh dengan baik sesuai grafik pertumbuhan. Hindari memulai cara lain untuk memberi minum bayi sebelum Anda benar-benar perlu. Sehingga pada saat ibu bekerja ibu sudah mampu menyimpan ASI yang cukup untuk diberikan pada bayinya. Semakin banyak bayi menyusu, semakin banyak keuntungan yang didapat. Bila tempat kerja ibu dekat dari rumah mungkin ibu bisa pulang memberinya minum saat istirahat, atau meminta seseorang untuk membawanya ke tempat kerja untuk menyusui. Untuk ibu bekerja yang letaknya jauh dari rumah, ibu lanjutkan untuk menyusui di malam hari, di pagi hari, dan kapan pun saat Anda berada di rumah, perah ASI sebelum pergi bekerja, dan berikan kepada pengasuh untuk diberikan kepada bayi.

Saat di tempat kerja ibu memerah ASI 2–3 kali setiap hari (sekitar per 3 jam). Yang perlu diperhatikan adalah menjaga kebersihan tangan dan wadah yang akan dipakai. Pastikan ibu mencuci tangan dengan bersih sebelum memerah ASI maupun menyimpannya. Wadah penyimpanan harus dipastikan bersih. Ibu dapat menggunakan botol kaca atau kontainer plastik dengan tutup yang rapat dengan bahan bebas bisphenol A (BPA). Hindari pemakaian kantong plastik biasa maupun botol susu disposable karena mudah bocor dan terkontaminasi. Kontainer harus dicuci dengan air panas dan sabun serta dianginkan hingga kering sebelum dipakai. Simpanlah ASI sesuai kebutuhan bayi. Pastikan bahwa pada wadah ASI telah diberi label berisi nama anak dan tanggal dan jam ASI diperah. Tanggal kapan ASI diperah perlu dicantumkan untuk memastikan bahwa ASI yang dipakai adalah ASI segar/ASI yang terakhir di perah agar bayi mendapat manfaat terbesar. ASI beku sebaiknya dicairkan dalam lemari pendingin satu hari sebelumnya. ASI yang akan digunakan dihangatkan dalam panci yang berisi air hangat. ASI yang telah dihangatkan dapat segera diberikan dan tidak didinginkan/dibekukan kembali. ASI yang tidak habis dalam 2 jam sebaiknya dibuang atau diberikan pada anak yang lebih besar.

Dapatkan info kesehatan RS St. Carolus di Harian KOMPAS setiap hari Minggu