Pro dan Kontra Suplementasi Vitamin D3 Dosis Tinggi (Bagian 1)

Oleh: dr. Cindy, MBiomed, SpPD dan dr. Erick Lios, MBiomed, SpPD

AKHIR-akhir ini, suplementasi vitamin D, khususnya konsumsi vitamin D3 dosis tinggi di awal asupan sedang menjadi buah bibir karena dianggap mampu meningkatkan daya tahan tubuh untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Terdapat tiga macam sumber vitamin D sehari-hari, yaitu makanan, paparan sinar matahari (UV), dan suplemen. Vitamin D yang berasal dari makanan berupa vitamin D2 dan D3 ternyata tidak mampu mencukupi kebutuhan vitamin D tubuh. Paparan sinar matahari pada kulit bermanfaat untuk mengubah vitamin D dari bentuk tidak aktif/provitamin D (7-Dehydrocholesterol) menjadi bentuk vitamin D3 yang akan dibawa ke hati dan diproses menjadi 25-hydroxyvitamin D3 untuk selanjutnya dibawa ke ginjal dan diubah menjadi vitamin D aktif (1,25 Dihydroxyvitamin D3). Vitamin D aktif tersebutlah yang kemudian beredar dan beker]a pada berbagai organ dalam tubuh.

Suplementasi vitamin D yang kita konsumsi sudah dalam bentuk vitamin D3 (bentuk aktif) sehingga tidak memerlukan matahari untuk diaktifkan. Vitamin D yang kita konsumsi akan masuk ke dalam hati dan diubah di ginjal menjadi vitamin D aktif.

Secara umum, suplementasi vitamin D dibagi menjadi 2, yaitu suplementasi vitamin D yang dapat dibeli bebas dan yang hanya boleh digunakan atas peresepan dokter. Suplemen yang boleh dibeli bebas yaitu vitamin D3 (disebut cholecalciferol) dan vitamin D2 (berasal dari jamur, disebut ergocalciferol). Vitamin D3 lebih poten dibandingkan vitamin D2 sehingga dapat diberikan dengan dosis yang lebih kecil dibandingkan dengan dosis vitamin D2. Produk yang beredar pada umumnya sudah dalam bentuk vitamin D3. Namun, terdapat juga suplemen vitamin D aktif yang hanya boleh digunakan jika diresepkan oleh dokter untuk indikasi tertentu, yaitu calcitriol. Calcitriol diperuntukkan bagi pasien dengan gagaI ginjal karena adanya keterbatasan kemampuan ginjal untuk aktivasi vitamin D.

Utamanya, vitamin D dalam tubuh bekerja pada organ tulang, usus, dan ginjal. Seiring dengan kemajuan penelitian dan teknologi, vitamin D kemudian diketahui mempunyai manfaat pleiotropic (manfaat lain di luar tulang, usus dan ginjal), yaitu pada otot, jantung dan pembuluh darah, fungsi kognitif, kerja insulin, kanker, dan imunitas. Peran vitamin D pada imunitas inilah yang dibutuhkan selama masa pandemi Covid-19. Vitamin D berpengaruh dalam imunitas melalui 2 jalan, yaitu dengan meningkatkan fungsi sel darah putih (sel imunitas) dalam melawan bakteri dan virus yang masuk ke dalam tubuh dan dengan memengaruhi produksi antibodi dan sitokin (zat yang berperan dalam pertahanan/imunitas tubuh). Fungsi vitamin D ini disebut sebagai efek imunomodulator.

Layer_1(11)
Reservasi
Layer_1(11)
Reservasi

You cannot copy content of this page

Scroll to Top
Chat WhatsApp
1
Butuh Bantuan?
Halo Sahabat Sehat Carolus 🥰

Terima kasih atas kepercayaannya terhadap RS St. Carolus. Kami selalu berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan yang berkualitas, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap & canggih.