Ramai-ramai Membicarakan Penyakit Tiroid Autoimun

dr. Laurentius Aswin Pramono, SpPD

BARU-baru ini, kita mendengar seorang selebritas cantik yang didiagnosis mengalami penyakit autoimun kelenjar tiroid. Seiring berita ini tersebar di berbagai infotainment dan media massa, banyak pasien saya yang bertanyatanya, penyakit apa itu tiroid autoimun? Apakah berbahaya dan bisa diobati? Semua ramai-ramai membicarakan penyakit tiroid autoimun.

Kata “autoimun” sekarang semakin populer saja. Itu kenyataan. Kelompok penyakit akibat kekebalan tubuh berlebihan yang “menyerang” sel-sel tubuh sendiri itu kini malah menjadi “tren”. “Dok, saya didiagnosis autoimun sama dokter saya,” kata beberapa orang pasien. Saat ditanya jenis penyakit autoimunnya apa, pasien-pasien tersebut kebingungan. Nah, ini harus diluruskan. Penyakit autoimun ada namanya. Sebut saja penyakit lupus (systemic lupus erythematosus), artritis reumatoid, penyakit sjogren, atau apa. Dokter yang mendiagnosis harus menyebutkan secara spesifik apa nama penyakitnya.

Penyakit autoimun yang menyerang kelenjar tiroid biasanya secara spesifik mengenai organ tiroid (gondok). Pada beberapa kasus, bisa disertai dengan kondisi medis lainnya seperti anemia (kekurangan darah), mata yang menonjol, atau kaki yang bengkak. Penyakit autoimun yang mengenai kelenjar tiroid ada yang menyebabkan hipertiroid (kelebihan hormon gondok) dan ada yang menyebabkan hipotiroid (kekurangan hormon gondok). Kedua-duanya dapat diobati.

Sedikit mengulas hipertiroid, penyakit autoimun tiroid yang menyebabkan hipertiroid dikenal dengan nama penyakit Graves’ (Graves’ disease). Gejalagejalanya antara lain berdebar-debar, berat badan menurun drastis tetapi nafsu makan bertambah, tangan tremor, mudah berkeringat, emosi labil dan iritabel, mata menonjol, dan mudah lelah. Pengobatannya harus dengan petunjuk dokter secara telaten selama 12–18 bulan menggunakan obat antitiroid (propiltiourasil atau metimazol). Kadang kasus-kasus tertentu membutuhkan operasi kelenjar tiroid atau radioablasi (terapi nuklir).

Kebetulan selebritas kita mengalami kebalikannya, yaitu penyakit autoimun tiroid yang menyebabkan hipotiroid. Nama penyakitnya dikenal dengan tiroiditis (radang tiroid) Hashimoto (pertama kali dideskripsikan oleh seorang dokter Jepang bernama Hakaru Hashimoto). Radang kronis (jangka panjang) akibat proses autoimun (kekebalan tubuh) yang menyerang kelenjar tiroid menyebabkan perubahan jaringan tiroid sehingga kekurangan produksi hormon tiroid. Pasien tiroiditis Hashimoto akan mengalami penurunan kadar hormon tiroid (FT4) dan peningkatan TSH. Penanda laboratorium yang tinggi adalah anti-tiroid peroksidase (anti-TPO) yang sudah bisa diperiksakan di beberapa laboratorium swasta di kota besar.

Pengobatan tiroiditis Hashimoto adalah dengan levotiroksin yang merupakan hormon tiroid sintetis. Lama pengobatan dan dosisnya tergantung dari usia dan kondisi pasien, serta kadar FT4 dan TSH. Obat ini dapat ditemukan di banyak rumah sakit dan apotek di kota-kota di Indonesia. Dalam penggunaannya, obat ini harus diresepkan dan dievaluasi oleh dokter. Menjaga gaya hidup sehat dengan menjauhi rokok, makanan berpengawet, penyedap rasa buatan, dan pewarna buatan, serta rajin olahraga adalah cara-cara lain mengatasi penyakit tiroiditis Hashimoto dan banyak penyakit autoimun lainnya. Jadi, jangan takut bila mengalami penyakit tiroid autoimun. Segera konsultasikan ke dokter-dokter Anda. Kami harap Anda senantiasa sehat. 

Layer_1(11)
Reservasi
Layer_1(11)
Reservasi

You cannot copy content of this page

Scroll to Top
Chat WhatsApp
1
Butuh Bantuan?
Halo Sahabat Sehat Carolus 🥰

Terima kasih atas kepercayaannya terhadap RS St. Carolus. Kami selalu berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan yang berkualitas, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap & canggih.