Tuberkulosis, Tidak Hanya di Paru (Bagian 1)

Oleh: dr. Robert Sinto, SpPD, K-PTI

MUNGKIN tidak ada masyarakat Indonesia yang tidak pernah mendengar penyakit “tuberkulosis” atau populer disingkat TBC atau TB. Hal ini wajar karena Indonesia masuk dalam jajaran negara dunia dengan kasus sakit TB yang cukup tinggi walaupun angka kesakitan dan kematian TB di Indonesia sudah menurun dibandingkan 20 tahun silam.

Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui percik renik (droplet). Infeksi akan terjadi apabila seseorang menghirup udara yang mengandung percikan dahak yang infeksius. Tidak semua orang yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.

Beberapa faktor yang menentukan sakit TB antara lain konsentrasi kuman yang terhirup, lamanya waktu sejak terinfeksi, usia dan tingkat daya tahan tubuh. Peningkatan diabetes melitus dan infeksi HIV, selain penggunaan berbagai obat penurun kekebalan tubuh untuk pengobatan penyakit kanker dan autoimun merupakan pendorong besar peningkatan kasus sakit TB dewasa ini.

Sebagai gambaran, seorang penyandang diabetes melitus yang terinfeksi TB memiliki kemungkinan sakit tiga kali lebih besar untuk menjadi sakit TB dibandingkan mereka yang bukan penyandang diabetes melitus. Risiko menjadi sakit TB sebesar 30 persen pada seluruh usia hidupnya. Seorang terinfeksi HIV yang belum diobati memiliki risiko sakit TB sebesar 7–10 persen setiap tahunnya.

Paru menjadi lokasi sakit yang paling banyak dilaporkan walaupun sebenarnya sakit TB dapat terjadi hampir di seluruh organ tubuh mulai dari kepala hingga kaki. Penyakit TB di organ lain selain paru (atau dalam dunia medis dikenal dengan istilah “TB ekstra-paru”) dapat disertai dengan atau tanpa TB paru.

Data di Amerika menunjukkan, hanya pada 10 persen kasus sakit terjadi pada paru dan ekstra-paru bersamaan, sementara pada 70 persen kasus sakit TB terjadi pada paru saja dan 20 persen kasus sakit terjadi pada organ di luar paru saja. Organ di luar paru yang dapat terinfeksi TB antara lain selaput otak, kelenjar getah bening, kulit, selaput paru, selaput jantung, usus, selaput perut, saluran kemih, buah zakar dan saluran telur, serta tulang dan sendi.

Seorang yang mengalami sakit TB ekstra-paru dapat menunjukkan gejala umum sakit TB, meliputi demam dengan suhu yang tidak terlalu tinggi, menggigil, lemas, penurunan nafsu makan dan berat badan. Selain gejala umum tersebut, keluhan spesifik organ akan dapat ditunjukkan sesuai lokasi sakit TB. (bersambung)
 

Layer_1(11)
Reservasi
Layer_1(11)
Reservasi

You cannot copy content of this page

Scroll to Top
Chat WhatsApp
1
Butuh Bantuan?
Halo Sahabat Sehat Carolus 🥰

Terima kasih atas kepercayaannya terhadap RS St. Carolus. Kami selalu berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan yang berkualitas, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap & canggih.