Vaksinasi pada Kelompok Rentan: Penyintas Autoimun (Bagian 2)

Oleh: dr. Cindy, MBiomed, SpPD dan dr. Faisal Parlindungan, MKed(PD), SpPD K-R

VAKSIN covid-19 yang tersedia di Indonesia dapat kita bagi dalam beberapa platform yang didasarkan pada bahan dasar pembuatan vaksin tersebut. Vaksin yang pertama beredar adalah platform inactivated-virus (Sinopharm dan Sinovac). Vaksin yang kedua menggunakan platform viralvector (AstraZeneca). Vaksin yang baru beredar di Indonesia adalah platform m-RNA (Modema dan Pfizer). Pertanyaannya, vaksin yang mana yang aman dan berkhasiat untuk penyintas autoimun? Semua platform vaksin Covid-19 tersebut bukanlah vaksin hidup sehingga tidak dikontraindikasikan atau dilarang bagi penyintas autoimun. Tidak ada anjuran untuk lebih memilih satu jenis vaksin dibandingkan vaksin lainnya pada penyintas autoimun. Vaksin yang terbaik adalah yang tersedia dan dapat diakses saat ini.

Karena adanya peningkatan risiko infeksi Covid-19 dan peningkatan risiko gejala berat akibat Covid-19, penyintas autoimun tergolong dalam populasi rentan yang menjadi prioritas vaksinasi Covid-19. ACR menganjurkan agar penyintas autoimun segera divaksinasi apabila vaksin sudah tersedia sesuai dengan rekomendasi lokal, dan bila kondisi penyakit autoimun dalam kondisi stabil. Pernyataan tersebut didukung juga oleh Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dan European League Against Rheunatism (EULAR) yang juga merekomendasikan hal yang sama dan menyatakan bahwa kontraindikasi mutlak untuk memberi vaksin kepada penyintas autoimun adalah adanya riwayat alergi berat terhadap komponen yang terdapat dalam vaksin.

Lantas bagaimana seorang penyintas autoimun dapat mengetahui bahwa dirinya dalam kondisi stabil dan dapat segera melakukan vaksinasi? Hal tersebut dapat didiskusikan dengan dokter yang selama ini menangani penyakitnya. Dokter akan mempertimbangkan kondisi umum penyakitnya dan penghentian obat tertentu (DMARD tertentu seperti Methrotrexate, Mycofenolate mofetil) selama periode postvaksinasi. Apabila ada kondisi pasien yang rentan terhadap peningkatan pembekuan darah, dokter akan menyarankan platform vaksin selain Astra Zeneca. Kerja sama dan komunikasi yang baik antara dokter dan pasien menjadi penting untuk memaksimalkan efek proteksi dari vaksin.

Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) atau yang dikenal sebagai "efek samping vaksin" tentunya menjadi momok bagi masyarakat sehingga enggan menjalani vaksinasi. Bagaimana data yang sebenarnya? Beberapa pustaka mencoba menyarikan KIPI berbagai platform vaksin Covid-19 pada penyintas autoimun, yaitu adanya keluhan nyeri pada lokasi suntikan, lelah, pusing, nyeri kepala, hingga demam menggigil. Jika terdapat nyeri atau demam setelah vaksinasi, boleh mengonsumsi parasetamol sesuai kebutuhan. Jika didapatkan efek samping yang lebih berat, dapat melapor ke sentra vaksinasi yang melakukan vaksinasi dan dokter yang merawat.

Jangan ragu mengikuti program vaksinasi, hendaknya mencari informasi yang tepat ke dokter, dan semoga kita semua senantiasa sehat.

Layer_1(11)
Reservasi
Layer_1(11)
Reservasi

You cannot copy content of this page

Scroll to Top
Chat WhatsApp
1
Butuh Bantuan?
Halo Sahabat Sehat Carolus 🥰

Terima kasih atas kepercayaannya terhadap RS St. Carolus. Kami selalu berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan yang berkualitas, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap & canggih.