8 Tanda Awal Diabetes pada Perempuan

Ditinjau oleh : dr. Fransiskus Xaverius Rinaldi

Diabetes, terutama tipe 2, lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Akan tetapi, perempuan dengan diabetes cenderung mengalami komplikasi yang lebih serius serta memiliki risiko kematian yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Untuk itu, mari kenali beberapa tanda awal diabetes pada perempuan dalam artikel berikut.

Hormon Testosteron dan Diabetes

Testosteron adalah hormon pria yang bertugas merangsang pertumbuhan otot dan rambut, perubahan suara, perkembangan organ vital, serta membantu produksi sperma dan menjaga libido. Meski hanya dalam jumlah yang sangat kecil, hormon ini juga diproduksi secara alami oleh tubuh perempuan untuk membantu menjaga keseimbangan hormon, terutama setelah menopause.

Hormon ini juga telah terbukti memengaruhi cara tubuh menyimpan lemak, baik lemak subkutan (di bawah kulit) maupun lemak visceral (di sekitar organ perut). Penelitian terbaru menunjukkan, perempuan dengan kadar testosteron yang tinggi lebih sering dikaitkan dengan resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

Perempuan dengan sindrom polikistik ovarium, yang memiliki tingkat testosteron tinggi, juga berisiko jauh lebih tinggi untuk mengidap diabetes tipe 2.

Komplikasi Diabetes pada Perempuan

Penyakit diabetes yang tidak dikelola dengan baik melalui pola makan dan gaya hidup sehat dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius. Beberapa di antaranya adalah neuropati, retinopati, penyakit kardiovaskular, dan penyakit ginjal.

Namun, perempuan dengan diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung, penyakit ginjal, dan depresi dibanding laki-laki. Risiko komplikasi pada perempuan juga akan bertambah setelah memasuki masa menopause akibat perubahan hormon. Ini termasuk peningkatan lebih lanjut pada kadar gula darah, kenaikan berat badan, masalah tidur, yang mana dapat memperburuk masalah kesehatan sebelumnya.

Tanda-Tanda Awal Diabetes pada Perempuan

Lantas, apa saja tanda-tanda awal diabetes pada perempuan? Berikut ulasannya:

  1. Lebih sering buang air kecil. Tanda pertama dan paling mencolok adalah buang air kecil yang lebih sering di malam hari. Kondisi ini terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring dan menyerap glukosa berlebih, sehingga gula berlebih diekskresikan ke dalam urine.
  2. Lebih sering merasa haus. Bersamaan dengan rasa buang air yang lebih sering, perempuan yang mengembangkan penyakit diabetes juga akan lebih sering merasa haus akibat tubuh kehilangan banyak cairan melalui urine.
  3. Penurunan berat badan secara tiba-tiba. Beberapa perempuan dengan diabetes awal mengalami penurunan berat badan secara tiba-tiba meski asupan makanan tidak sedang dikurangi. Ini terjadi karena tubuh mulai memecah otot dan lemak sebagai sumber energi ketika tubuh tidak dapat menggunakan glukosa secara efisien.
  4. Menstruasi tidak teratur. Perempuan dengan diabetes, terutama tipe 2, mungkin mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur akibat perubahan hormon. Selain durasi menstruasi yang menjadi lebih lama, volume cairan menstruasi juga mungkin menjadi lebih banyak atau deras.
  5. Masalah reproduksi atau kesuburan lain. Perempuan yang mengembangkan diabetes juga mungkin mengalami masalah reproduksi atau kesuburan, termasuk infeksi jamur kronis, infeksi saluran kemih berulang, penurunan gairah seksual, kesulitan untuk hamil, hingga komplikasi pada kehamilan.
  6. Kulit kering dan gatal. Sirkulasi darah yang buruk dan dehidrasi dapat menyebabkan kulit kering dan gatal. Perempuan dengan diabetes umumnya mengalami masalah kulit ini di bagian bawah kaki, siku, atau area lain. Infeksi jamur seperti di bawah payudara atau selangkangan juga sering terjadi.
  7. Kebas atau kesemutan di tangan dan kaki. Gula darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan saraf (neuropati diabetes), sehingga menimbulkan rasa kebas, kesemutan, atau nyeri di tangan maupun kaki.
  8. Kenaikan berat badan setelah menopause. Banyak perempuan yang mengalami penambahan berat badan setelah menopause. Namun, perempuan dengan diabetes memiliki risiko kenaikan berat badan setelah menopause yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak diabetes. Ini terjadi karena perubahan hormon saat menopause dapat memengaruhi kadar gula darah.

Demikianlah ulasan mengenai diabetes pada perempuan, mulai dari hubungannya dengan hormon testosteron, komplikasi, serta tanda-tanda awalnya. Apabila Anda ingin berkonsultasi mengenai risiko diabetes atau gangguan hormon dan metabolisme, Anda dapat melakukan kunjungan ke RS St. Carolus untuk bertemu dengan Dokter Spesialis Endokrinologi dan Diabetes kami yang berpengalaman menangani diabetes, gangguan tiroid, obesitas, osteoporosis, dan kelainan hormon lainnya.

Anda juga juga bisa melakukan pengecekan risiko diabetes dengan paket MCU lengkap di RS St. Carolus yang tersedia sesuai berbagai kebutuhan Anda. Silakan mendatangi langsung Unit Medical Check Up RS St. Carolus untuk mendapatkan informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh : dr. Fransiskus Xaverius Rinaldi

Share

Kategori

Layer_1(11)
Reservasi
 
Scroll to Top