Terapi ARV Suntik, Inovasi Baru Pengobatan HIV

Artikel karya drSisca Hadinata dan Tim Ruang Carlo RS St. Carolus, Jakarta ini telah terbit di Harian Kompas pada 29 Desember 2024. 

Gambar 1.1 (source : www.himedik.com)

TERAPI antiretroviral (ARV) merupakan pengobatan yang efektif bagi orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) untuk mengendalikan virus dalam tubuh. ODHIV yang rutin mendapat terapi ARV dapat mencapai kondisi ketika jumlah virus atau viral load sangat rendah atau tidak terdeteksi. 

Ketika viral load tidak terdeteksi, penurunan fungsi kekebalan tubuh dapat dicegah dan ODHIV tidak lagi dapat menulari pasangannya. Kepatuhan berobat menjadi kunci penting bagi ODHIV untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. 

Saat ini, ARV yang tersedia di Indonesia dalam bentuk tablet, yang ODHIV harus mengonsumsi obat di waktu yang sama setiap hari. Kedisiplinan ODHIV dalam pengobatan ARV sangat penting untuk tetap menjaga efektivitas pengobatan. Jika ARV tidak dikonsumsi secara rutin, selain dapat menyebabkan virus kembali berkembang, bisa meningkatkan kemungkinan virus bermutasi sehingga menjadi resisten atau kebal terhadap obat yang dikonsumsi. 

Terapi ARV suntik merupakan salah satu inovasi terbaru. Pengembangan ARV ini berangkat dari tujuan untuk menciptakan terapi ARV yang efektif dan memudahkan untuk ODHIV. Obat cabotegravir dan rilpivirine merupakan obat ARV suntik pertama yang disetujui FDA, badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat, pada 2021. 

Terapi suntik ini dapat diberikan dalam satu atau dua bulan sekali sehingga diharapkan dapat membantu para ODHIV untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan. Studi klinis yang sudah dilakukan juga menunjukkan bahwa obat ARV suntik ini memiliki efektivitas yang setara dengan terapi ARV oral dalam menurunkan viral load. 

Meski demikian, masih terdapat beberapa tantangan dalam pemberian pengobatan ARV suntik. Salah satunya, akses ke fasilitas kesehatan. Terapi suntik ini mengharuskan seseorang rutin berkunjung ke klinik dalam jangka waktu tertentu, yang dapat menjadi hambatan untuk ODHIV yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan yang menyediakan pengobatan ini. 

Selain itu, beberapa orang juga merasa tidak nyaman dengan prosedur penyuntikan obat karena rasa sakit yang ditimbulkan. Biaya pengobatan ARV suntik juga cenderung lebih mahal dibandingkan ARV tablet. Biaya ini bisa menjadi kendala terutama di negara berkembang. 

Saat ini, terapi ARV suntik belum tersedia secara global dan baru tersedia di Amerika, Inggris, Kanada, Argentina, dan beberapa negara lainnya. Di Indonesia, pengobatan ARV suntik belum tersedia. Namun, dengan adanya terobosan baru dari pengembangan ARV ini, semakin banyak harapan yang muncul untuk kemajuan pengobatan HIV di dunia. 

Diharapkan, dengan penelitian dan distribusi yang terus berkembang, terapi ARV suntik akan semakin terjangkau dan dapat diakses oleh lebih banyak pasien di seluruh dunia, termasuk Indonesia. 

Share

Kategori

📲 Informasi & Reservasi

Layer_1(11)
Reservasi
 
Scroll to Top