Kenali dan Kendalikan Artritis Reumatoid

Ditinjau oleh : dr. Cindy, MBiomed, SpPD-KR

Gambar 1.1 (source : mediasata.com)

SAHABAT sehat Carolus, dalam rangka memperingati Hari Artritis Reumatoid (AR) pada 2 Februari, kali ini kita akan membahas tentang penyakit tersebut. AR merupakan salah satu penyakit radang sendi yang disebabkan proses autoimun (rematik autoimun). Penyakit ini terutama menyerang sendi, tetapi bisa juga menyebabkan peradangan di seluruh tubuh. Sifat penyakit AR adalah kronik (menahun) dan progresif. 

AR lebih sering terjadi pada perempuan, utamanya usia 50-54 tahun. Faktor genetik (adanya riwayat AR dalam keluarga) memberi kontribusi bagi terjadinya AR. Namun, tidak semua orang yang membawa faktor genetik tersebut akan langsung mengalami penyakit AR. 

Faktor lingkungan, seperti merokok, infeksi, penyakit gigi mulut, polusi, dan paparan zat-zat kimia berbahaya dapat juga mencetuskan AR dengan mengubah protein normal dalam tubuh menjadi protein asing yang akan diserang antibodi dari diri pasien sendiri. Akibatnya, terjadi peradangan sendi diikuti dengan kerusakan tulang rawan dan area sekitarnya. 

Gejala peradangan sendi yang dialami dapat menyerupai penyakit sendi lainnya. Lantas, bagaimana kita bisa mengenali AR? Gejala klasik AR adalah nyeri dan kaku pada sendi-sendi kecil di tangan dan kaki, simetris kiri dan kanan disertai kekakuan sendi yang terjadi terutama di pagi hari selama 1 jam atau lebih (morning stiffness). 

Kadang bisa disertai juga gejala seperti lemas, penurunan nafsu makan, dan demam ringan. Jika terdapat keluhan demikian, dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam subspesialis reumatologi. 

Jika AR terlambat ditangani akan berlanjut pada kerusakan sendi permanen hingga terjadi perubahan bentuk (deformitas) sendi. Hancurnya sendi jari tangan, pergelangan tangan dan siku, juga akan menghambat pergerakan. Sendi kaki dan pergelangan kaki juga bisa mengalami kecacatan dan menyebabkan gangguan gaya jalan. AR jarang bersifat fatal tapi tetap merugikan karena dapat mengganggu aktivitas harian. 

Beberapa pemeriksaan fisik, laboratorium, dan radiologi akan dilakukan dokter untuk membantu menegakkan diagnosis AR (tidak hanya bergantung pada hasil laboratorium rheumatoid factor/RF). Target utama dari terapi AR adalah mencapai remisi (tidak aktif) sepanjang mungkin dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut (menghindari kecacatan). 

Penggunaan obat disease-modifying antirheumatic drugs (DMARD) sedini mungkin adalah penting. Tidaklah dianjurkan bagi pasien untuk mengonsumsi obat radang (steroid maupun non-steroid) terus menerus tanpa pengawasan dokter mengingat banyaknya efek samping. 

Tidak ada diet khusus untuk pasien AR. Namun, pola hidup sehat secara umum harus tetap dilakukan sehari-hari. Semoga kita semua senantiasa sehat. 

  Artikel karya dr. Cindy, MBiomed, SpPD-KR ini telah terbit di Harian Kompas pada 25 Februari 2024. 

Ditinjau oleh : dr. Cindy, MBiomed, SpPD-KR

Share

Kategori

📲 Informasi & Reservasi

Layer_1(11)
Reservasi
 
Scroll to Top