Artikel karya dr. Michelle dan Tim Ruang Carlo RS St. Carolus, Jakarta ini telah terbit di Harian Kompas pada 08 Desember 2024.Â

Gambar 1.1 (source : www.pexels.com)
Seorang pria berusia 30 tahun datang ke Ruang Carlo (layanan HIV RS St. Carolus, Jakarta) untuk konsultasi setelah tiga bulan merasakan kondisi kesehatannya memburuk. Ia mengeluhkan tubuhnya yang kian kurus, lemas, mual saat makan serta munculnya ruam kemerahan di lengan dan kakinya.Â
Setelah diperiksa, pria ini ternyata telah berhenti mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) selama dua tahun terakhir. Padahal, sejak 2019, ia didiagnosis positif HIV dan sempat rutin berobat hingga akhir 2022. Ketika ditanya alasannya berhenti, ia mengaku sulit menerima kenyataan sebagai orang dengan HIV (ODHIV) dan merasa hidupnya hancur tanpa arah tujuan.Â
Perasaan berat itu membuatnya enggan minum obat dan bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. Ia akhirnya mengungkapkan bahwa setiap kali minum obat, ia merasa seperti diingatkan akan kenyataan pahit yang tidak bisa ia terima. Selama ini, hanya kakak kandungnya yang mengetahui kondisinya. Kakaknya yang peduli dan mendukungnya langsung membawanya ke Ruang Carlo begitu mengetahui sudah lama tidak menjalani pengobatan.Â
Dukungan kakaknya menjadi dorongan besar baginya untuk mulai menerima keadaan. Ia akhirnya memutuskan kembali mengonsumsi ARV meski dengan perasaan ragu. Dalam beberapa minggu pertama, gejalanya sempat memburuk. Ruam merah menyebar hampir ke seluruh tubuh, termasuk wajah.Â
Namun, ia tetap berkomitmen untuk melanjutkan pengobatan. Satu bulan kemudian, gejalanya mulai membaik dan dua bulan setelah itu, ia datang dengan kondisi yang jauh lebih baik – kulitnya bersih, tubuhnya lebih sehat dan wajahnya ceria.Â
Pria itu, kini Kembali bekerja dan mulai menata hidupnya. Dukungan orang terdekat, terutama kakaknya, serta keberanian untuk menerima kenyataan, telah membantunya bangkit dari keterpurukan. Ia menjalani hari-hari dengan semangat baru, bertekad untuk lebih baik dan tidak lagi menyerah pada keadaan. Keputusan untuk Kembali mengonsumsi ARV menjadi titik balik dalam perjalanannya menuju hidup yang lebih sehat dan optimistis.Â
Kisah seperti itu bukanlah hal yang asing di Ruang Carlo. Setelah berhasil mengatasi ketakutan untuk melakukan pemeriksaan HIV, banyak orang masih sulit menghadapi proses penerimaan saat mereka dinyatakan positif HIV. Sebab, akan berdampak pada keteraturan minum obat ke depannya.Â
Pentingnya keteraturan minum obat ARV adalah untuk menjaga viral load HIV (jumlah virus) agar tetap tidak terdeteksi. Sering kali, stigma menjadi hambatan utama bagi seseorang untuk menerima keadaan mereka.Â
Tema nasional Hari AIDS 2024 yaitu “Hak Setara untuk Semua, Bersama Kita Bisa”, mengingatkan kita bahwa setiap individu, tanpa memandang status HIV-nya, berhak mendapatkan perlakukan yang setara dan dukungan yang layak.Â
Bersama-sama, kita dapat menghilangkan stigma, memperkuat pemahaman dan memberikan harapan bagi mereka yang berjuang dengan HIV. Memastikan bahwa mereka tidak merasa sendirian dalam perjalanan ini.

