Stigma dan Diskriminasi terhadap HIV/AIDS, Realita dan Tantangan

Ditinjau oleh :  dr. Sisca Hadinata dan Tim Ruang Carlo

Gambar 1.1 (source : hivinfo.nih.gov)

SEJAK ditemukan pertama kali di awal 1980-an, pemahaman terhadap infeksi human immunodeficiency virus (HIV) telah berkembang pesat. Kemajuan ilmu pengetahuan menjadi pilar utama yang menopang upaya global dalam mencegah dan menanggulangi infeksi virus yang menyebabkan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) ini. 

Salah satu tantangan terbesar dalam upaya penanggulangan AIDS ini adalah stigma dan diskriminasi yang masih tinggi di masyarakat. Stigma adalah pandangan dan kepercayaan negatif yang melekat pada suatu kelompok individu. Sementara diskriminasi merupakan tindakan atau perlakuan tidak adil terhadap kelompok tersebut. Masalah ini masih dihadapi di setiap negara dan sering kali berkontribusi pada masalah-masalah serius lainnya. 

Dampak paling nyata adalah terhambatnya akses pelayanan kesehatan pada individu yang membutuhkan. Seseorang yang berisiko mungkin enggan untuk memeriksakan status HIV-nya karena takut akan pandangan negatif yang bisa diterimanya jika hasilnya positif. Begitu pula, seseorang yang sudah mengetahui status HIV-nya, mungkin takut untuk mengakses pengobatan karena takut akan diskriminasi yang mungkin dihadapinya. Hal ini juga berpotensi menghambat akses pasangan atau anak dari individu tersebut untuk dilakukan pemeriksaan HIV. 

Selain memengaruhi akses seseorang terhadap pelayanan kesehatan, stigma dan diskriminasi juga dapat memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan psikologis individu yang terdampak. Penolakan di tempat kerja atau bahkan di tempat layanan kesehatan sendiri tidak jarang ditemukan. 

Menurut data UNAIDS pada 2021, sekitar 21 persen orang dengan HIV (ODHIV) dilaporkan mengalami penolakan dari pelayanan kesehatan karena status HIV-nya. Data dari sumber yang sama menunjukkan bahwa 47 negara masih melarang ODHIV melakukan perjalanan ke negaranya. Sebuah kasus nyata di Indonesia pada 2019, saat 14 orang siswa SD di Solo dikeluarkan dari sekolah karena diduga berstatus HIV positif. 

Masalah stigma dan diskriminasi ini berakar pada bayangan-bayangan kelam HIV pada masa lalu yang masih melekat dan tidak diiringi dengan pemahaman yang baik akan kondisinya sekarang. Dengan pengobatan yang teratur, seseorang dapat mencapai status viral load tidak terdeteksi. Pada kondisi ini, seseorang tidak lagi dapat menularkan virus. Seorang ibu hamil dengan HIV, misalnya, bahkan bisa melahirkan anak tanpa HIV selama sepanjang kehamilan viral load dalam status tidak terdeteksi. 

Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mempromosikan pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS dan memberikan dukungan yang memadai bagi individu yang terkena dampak. 

Artikel karyaRS St. Carolus ini telah terbit di Harian Kompas pada 03 Maret 2024. 

Ditinjau oleh :  dr. Sisca Hadinata dan Tim Ruang Carlo

Share

Kategori

📲 Informasi & Reservasi

Layer_1(11)
Reservasi
 
Scroll to Top